Monday, September 27, 2004

Medan Punya Kerja, Ambon Dapat Nama

Ketika saya balik dari Ambon beberapa bulan lalu, seorang teman sambil kelakar bertanya, "Bawa oleh-oleh Bika Ambon nggak Mas?"

Jelas aja aku nggak bawa. Pasalnya Bika Ambon itu oleh-oleh khas dari Medan. Katakanlah, yang punya kerja (yang capek) Medan, yang dapat nama Ambon. Saya aja sampe sekarang belum jelas hostory-nya, penganan khas Medan itu diberi embel-embel Ambon.

Memang, penganan itu dibuat juga di Ambon, meski nggak sama persis. Agak mirip lah (bilang aja satu species, gitu). Orang di Ambon menyebutnya dengan nama Babengka. Begitu juga nasibnya Pisang Ambon, yang di Ambon justru dikenal dengan nama Pisang Meja.

Lalu apa oleh-oleh khas Ambon?
Bagi yang pernah berurusan dengan orang Ambon (maksudnya bertetangga, berteman, berpacaran, atau berbesan...hehehe) pasti mengenal minyak kayu putih. Buru, tempat sastrawan Pramudya Ananta Toer melahirkan sejumlah karyanya, adalah salah satu tempat yang produktif memproduksi minyak kayu putih ini. Bagi yang sudah mencoba, pasti tau khasiatnya.

Nah kalo oleh-oleh yang berurusan dengan perut, apa dong?
Ok, kalo yang berurusan dengan perut dan khas Ambon, umumnya berbahan dasar sagu. Sagu yang dimaksud di sini yaitu sagu berbentuk lempengan, yang kemudian dihaluskan dengan proses ditumbuk. Penganan yang paling populer dari sagu ini namanya Bagea dan Sagu Tumbu.

Bagea bentuknya bulat kayak bola pingpong. Ada yang agak keras (maksudnya garing kali ya), trus ada yang agak lunak. Umumnya yang agak keras itu bikinan nenek-nenek di kampung, dengan pengetahuan atau cara pengolahan yang masih tradisional. Tapi justru jarang dimakan nenek atau kakek. Abisnya, bisa tambah ompong itu gigi. Sedangkan yang agak lunak, biasanya bikinan home industry yang dimaksudkan untuk konsumsi pasar. Ada juga yang menambahkan gula secukupnya dan kenari ke dalam adonannya, sehingga memberi rasa manis dan gurih.

Lalu, Sagu Tumbu, bentuknya bulat lonjong. Bahan dasarnya juga sagu, yang ditambahkan bubuk kayu manis (kau manis yang ditumbuk sampai halus), gula merah, dan kenari. Ehmmm...pokoknya enak deh. Mungkin karena adonannya diolah dalam lesung, dengan proses semua bahan dicampurkan lalu ditumbuk, maka diberi nama Sagu Tumbu (=tumbuk).

Kapan-kapan saya jepret biar bisa lihat wujudnya, ya? Sekarang mungkin bisa dibayangkan aja dulu.

2 comments:

om brama said...

belum rasakan khasiat minyak kayu putih ya?
klik di http://www.minyakayuputih.wordpress.com

God Is Not Anemia said...
This comment has been removed by a blog administrator.