Sunday, September 26, 2004

Sepotong Puisi

Bagi banyak orang hari Minggu adalah hari untuk istirahat. Saya juga selalu memanfaatkannya untuk beristirahat dengan Ivon (istri) dan Tiara (anak semata wayang saya). Entah sekadar nonton tayangan teve, mutar DVD, atau yang agak mengeluarkan tenaga seperti berenang bareng di Pasar Festival di daerah Kuningan, Jalan H.R. Rasuna Said. Tapi kegiatan renang ini terpaksa terlewatkan dari jadwal hari Minggu kami. Bukannya bosan, ini lantaran anak saya masih agak ngeri datang ke daerah yang beberapa waktu lalu diluluh-lantakkan oleh bom kerjaan orang-orang tak berperi-kemanusiaan itu. Jadinya kami istirahat di rumah saja.

Ivon mengisi hari Minggu ini dengan membaca "Sheila" sebuah buku tulisan Torey Haiden yang banyak diulas media massa beberapa pekan kemarin. Sedangkan Tiara menyelesaikan sejumlah PR-nya. Hari Jumat dan Sabtu kemarin dia nggak masuk lantaran diserang flu. Tadi pagi badannya mulai agak enakan, jadi sejak siang tadi PR-nya mulai dikerjakan.

Saya sendiri membenahi kembali arsip-arsip di gudang. Tumpukan koran hasil sortiran saya ikat dengan tali rafia, untuk selanjutnya dilego ke tukang koran bekas. Begitu juga dengan nasib leaflet/brosur promosi harga produk dari supermarket langganan kami. Beberapa printout-an email yang termasuk penting, saya benahi lagi sesuai urutan kronologis waktunya.

Ketika sedang asyik membenahi print-outan email itu, saya berhenti sejenak membaca sebuah puisi dari sahabat saya Rudi Fofid. Dia berasal dari Kei (Maluku Tenggara), sebuah wilayah jauh di selatan Pulau Ambon.

Saya dan Rudi bersahabat akrab ketika saya sering memasukkan karya saya di Harian Suara Maluku Ambon. Perkenalan kami terjadi sekitar tahun 1994. Ketika itu Rudi adalah salah satu redaktur di harian terkemuka di Maluku ini. Dan saya ketika itu, mahasiswa di Fakultas Perikanan Universitas Pattimura Ambon.

Catatan Pinggir untuk Anakku
Andai kau minta bumi
Maka ini bumi
Milikmu

Andai kau minta langit
Maka menengadahlah
Kepunyaanmu jua

Andai kau minta matahari
Maka bangunlah pagi-pagi
Dia tak pernah berdusta

Tapi kalau kau minta kenang-kenangan
Maka aku akan bilang tunggu dulu

Sungguh mati kalau kau minta kenang-kenangan
Maka aku akan bilang sungguh-sungguh tunggu dulu

Anakku, kau boleh ambil jiwaku supaya nyawamu dua
Anakku, boleh kau ambil tulangku, darahku, sumsumku
Semua!

Tapi kalau kau minta kenang-kenangan
Maka aku akan bilang tunggu dulu
Sungguh mati kalau kau minta kenang-kenangan
Maka aku akan bilang sungguh-sungguh tunggu dulu

Sebab dalam kenang-kenangan ada yang begitu luka parah
Berdarah
Maut
Laknat
Dendam
Benci
Mayat
Hantu
Puing
Bara
Mesiu
Pekik
Maki
Sakit Hati
Merana
Nelangsa
Pahit

Ambon, anakku!
Takan keberikan Ambon
Takan kubagi kenangan tentang anisnya bercinta di sana
Apalagi berlari di bawa asap
Takan, anakku!

(Rudi Fofid: Tomohon, Desember 2000)

Puisi itu dibuat Rudi ketika dia, istri dan anaknya yang baru berumur beberapa bulan, terpaksa mengungsi ke Manado. Mengungsi di tengah bunyi bom, asap mesiu dan bunyi renteten tembakan. Pengalaman yang juga saya rasakan. Sekarang anaknya sudah dua (anak keduanya lahir di Manado) dan mereka sudah kembali ke Ambon. Saya sendiri masih di sini, di Jakarta, dan masih punya satu anak.

1 comment:

God Is Not Anemia said...
This comment has been removed by a blog administrator.