Friday, October 29, 2004

Ramadhan Setengah Perjalanan

Ramadhan sudah setengah perjalanan. Banyak hikmah yang coba kita raih di bulan penuh rahmat ini.

Alhamdulillah, Tiara anak saya, kali ini tidak absen. Dia juga sudah jauh mengerti makna puasa. Terutama juga karena sajian aneka ragam acara di layar teve, yang semuanya
bernuansa Islami. Banyak memberi petuah dan nasehat. Ada yang menyebut-nyebut, nuansa
musholah/masjid dihadirkan ke hadapan kita lewat layar kaca. Mulai dari sejarah perjalanan Islam di berbagai negara dan di Indonesia, sampai tradisi buka puasa di berbagai tempat.

Di rumah kami sendiri, selalu ada menu wajib: 1 jenis yang manis (seperti kolak atau pisang goring) dan 1 jenis yang berbumbu renyah (asin?) seperti lemper atau pastel. Kadang buatan Tiara dan mamanya. Kadang juga dibeli di tempat jajan buka dekat rumah. Membandingkan Ramadhan kali ini dan Ramadhan sebelumnya di rumah saya, tidak banyak perubahan berarti. Mungkin hanya tanggalan yang berubah dan usia yang bertambah.

Begitu juga dengan Ramadhan di Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Waihaong, Kota Ambon. Penghuni kompleks yang sekarang berubah fungsi sebagai tempat penampungan pengungsi ini, juga tidak merasa perubahan yang berarti dari Ramadhan ke Ramadhan yang mereka jalani di sana.

Seorang teman yang bergiatan di kompleks THR Waihaong menceritakan kisah pengungsi di kamp ini:

Para pengungsi hidup berdesakan di penampungan yang lumayan sumpek dan pengab. Apa yang dilakukan Si A pasti diketahui oleh Si B. Begitu pula sebaliknya. Sebab di sini tidak ada privasi. Maklum tidak semua yang tinggal (punya kapling) di sini punya pembatas
antar satu kelurga dengan keluarga yang lain. Sebagian memang ada yang punya ruangan berdinding tripleks, tapi tidak sedikit yang hanya berpembatas kardus.

Yang membedakan hari-hari Ramadhan dengan hari-hari mereka yang lain, hanyalah semakin maraknya kegiatan warga dalam menghidupkan bulan penuh berkah ini.
Menjelang Zuhur hingga tengah malam, Masjid Asy Syuhada yang terletak di tengah-tengah komplek terus menunjukkan aktifitas. Banyak doa yang mereka panjatkan, dari Subuh hingga Subuh lagi. Terutama mengenai nasib mereka yang belum menentu. Terkatung-katung karena ulah para koruptor. Adakah para koruptor itu bertobat di bulan ampunan ini?

2 comments:

God Is Not Anemia said...
This comment has been removed by a blog administrator.
God Is Not Anemia said...
This comment has been removed by a blog administrator.